Rabu, 20 November 2013



Persahabatan memang tak lekang oleh waktu. Seorang sahabat akan tetap mengasihi sahabatnya walau ia telah tiada. Sahabat tidak hanya membenarkan kata-kata yang diucapkan sahabatnya, tapi ia juga akan menentang jika sahabatnya melakukan kesalahan. Sahabat sejati rela melakukan apa saja demi sahabatnya, asal ia masih di jalan yang benar. Seperti ke 5 sahabat ini, mereka rela melakukan apa saja demi harga diri mereka.
Evan, Juno, Martin, Louis, dan Arthur, mereka adalah 5 sahabat, tidak bisa disebut gangster walaupun mereka memang suka berkelahi. Tetapi, mereka berkelahi bukan karena sok jagoan ataupun terlibat dalam suatu permusuhan, mereka berkelahi karena mempertahankan harkat martabat mereka. Konon, mereka hanya beranggotakan 4 orang, ya karena sebelumnya Martin belum ikut bergabung dengan mereka.
Suatu hari, Martin pindah sekolah lantas ia satu sekolah dengan Evan, Juno, Louis, dan Arthur. Awalnya Martin tidak suka dengan sikap ke 4 sahabat itu, di mata Martin, mereka hanyalah anak-anak gangster yang suka berkelahi, suka bikin rusuh, dan membuatnya ditakuti oleh banyak orang.
Martin memang sebal pada ke 4 sahabat tersebut, namun ia juga takut, karena konon, gank mereka yang paling ditakuti di sekolah mereka. Sampai pada suatu hari, Martin terkepung oleh preman-preman di halte bus, saat itu ke 4 sahabat sedang melaju di jalan raya, lantas mereka berhenti dan menolong Martin. Martin lalu bergabung dengan mereka, ia ikut makan siang bersama ke 4 sahabat tersebut. Sesuatu yang sangat tidak disangka terjadi, Evan yang gosipnya ketua dari gank itu menawarkan Martin agar ia mau ikut menjadi sahabat ke 5 nya. Dengan berpikir sejenak, Martin lalu mengiyakan permintaan Evan tersebut. Jadilah mereka bukan 4 bersahabat lagi tetapi 5 sahabat.
Kehidupan terus berlanjut, Martin sekarang sudah benar-benar berbeda dari pertamakali ia masuk ke sekolah itu. Ia sekarang juga ikut berkelahi jika ada temannya yang dirusuhi oleh orang.
Suatu hari Martin melihat kakaknya sedang di kroyok oleh preman, ia bersama teman-teman lantas mengkroyok balik preman-preman itu, satu orang yang tetap tinggal di mobil yakni Arthur, karena takut, Arthur lantas mengunci semua pintu mobil dan menyalakan musik keras-keras. Ketika tiba-tiba polisi datang Evan dan kawan-kawan tidak bisa kabur karena Arthur mengunci semua pintu mobil dan ia tidak bisa mendengar apapun ketika sahabat-sahabatnya berteriak-teriak meminta dibukakan pintunya. Evan dan sahabat-sahabatnya lantas masuk penjara, tentu saja bersama Arthur karena ia juga berada di TKP saat itu.
Di dalam penjara mereka bertengkar hebat, tidak semuanya memang, hanya Evan dan Junolah yang benar-benar memanaskan suasana. “Hei, kau tahu, kau itu memang pengecut, sedari dulu kau memang tak pernah mau ikut berkelahi. Dan sekarang, saat teman-temanmu sedang menyelamatkan kakak dari seorang temanmu juga, kau malah bersembunyi di mobil, apa-apa an kau ini ha??”, Juno terus berteriak memarahi Arthur. “Sudahlah Juno, dia juga tidak sepenuhnya salah.”, ucap Evan. “Selalu saja kau bela anak ini, tak pernah kau membelaku yang jelas-jelas ikut berkelahi denganmu.”, amarah Juno semakin memuncak. “Ma..Maaf.”, hanya itu yang bisa keluar dari mulut Arthur.

-to be continued someday-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar