Persahabatan memang tak lekang
oleh waktu. Seorang sahabat akan tetap mengasihi sahabatnya walau ia telah
tiada. Sahabat tidak hanya membenarkan kata-kata yang diucapkan sahabatnya,
tapi ia juga akan menentang jika sahabatnya melakukan kesalahan. Sahabat sejati
rela melakukan apa saja demi sahabatnya, asal ia masih di jalan yang benar.
Seperti ke 5 sahabat ini, mereka rela melakukan apa saja demi harga diri
mereka.
Evan, Juno, Martin, Louis, dan
Arthur, mereka adalah 5 sahabat, tidak bisa disebut gangster walaupun mereka
memang suka berkelahi. Tetapi, mereka berkelahi bukan karena sok jagoan ataupun
terlibat dalam suatu permusuhan, mereka berkelahi karena mempertahankan harkat
martabat mereka. Konon, mereka hanya beranggotakan 4 orang, ya karena
sebelumnya Martin belum ikut bergabung dengan mereka.
Suatu hari, Martin pindah sekolah
lantas ia satu sekolah dengan Evan, Juno, Louis, dan Arthur. Awalnya Martin
tidak suka dengan sikap ke 4 sahabat itu, di mata Martin, mereka hanyalah
anak-anak gangster yang suka berkelahi, suka bikin rusuh, dan membuatnya
ditakuti oleh banyak orang.
Martin memang sebal pada ke 4
sahabat tersebut, namun ia juga takut, karena konon, gank mereka yang paling
ditakuti di sekolah mereka. Sampai pada suatu hari, Martin terkepung oleh preman-preman
di halte bus, saat itu ke 4 sahabat sedang melaju di jalan raya, lantas mereka
berhenti dan menolong Martin. Martin lalu bergabung dengan mereka, ia ikut
makan siang bersama ke 4 sahabat tersebut. Sesuatu yang sangat tidak disangka
terjadi, Evan yang gosipnya ketua dari gank itu menawarkan Martin agar ia mau
ikut menjadi sahabat ke 5 nya. Dengan berpikir sejenak, Martin lalu mengiyakan
permintaan Evan tersebut. Jadilah mereka bukan 4 bersahabat lagi tetapi 5
sahabat.
Kehidupan terus berlanjut, Martin
sekarang sudah benar-benar berbeda dari pertamakali ia masuk ke sekolah itu. Ia
sekarang juga ikut berkelahi jika ada temannya yang dirusuhi oleh orang.
Suatu hari Martin melihat
kakaknya sedang di kroyok oleh preman, ia bersama teman-teman lantas mengkroyok
balik preman-preman itu, satu orang yang tetap tinggal di mobil yakni Arthur,
karena takut, Arthur lantas mengunci semua pintu mobil dan menyalakan musik
keras-keras. Ketika tiba-tiba polisi datang Evan dan kawan-kawan tidak bisa
kabur karena Arthur mengunci semua pintu mobil dan ia tidak bisa mendengar
apapun ketika sahabat-sahabatnya berteriak-teriak meminta dibukakan pintunya.
Evan dan sahabat-sahabatnya lantas masuk penjara, tentu saja bersama Arthur
karena ia juga berada di TKP saat itu.
Di dalam penjara mereka
bertengkar hebat, tidak semuanya memang, hanya Evan dan Junolah yang
benar-benar memanaskan suasana. “Hei, kau tahu, kau itu memang pengecut, sedari
dulu kau memang tak pernah mau ikut berkelahi. Dan sekarang, saat teman-temanmu
sedang menyelamatkan kakak dari seorang temanmu juga, kau malah bersembunyi di
mobil, apa-apa an kau ini ha??”, Juno terus berteriak memarahi Arthur.
“Sudahlah Juno, dia juga tidak sepenuhnya salah.”, ucap Evan. “Selalu saja kau
bela anak ini, tak pernah kau membelaku yang jelas-jelas ikut berkelahi
denganmu.”, amarah Juno semakin memuncak. “Ma..Maaf.”, hanya itu yang bisa
keluar dari mulut Arthur.
-to be continued someday-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar